Selasa, 16 Juni 2015

Procrastination: How Not To

My Office (Break Time)
1458 hours

"I think of myself as an intelligent, sensitive human being with the soul of a clown which always forces me to blow it at the most important moments."
- Jim Morrison

"You can't just turn on creativity like a faucet. You have to be in the right mood. What mood is that? Last-minute panic."
- Bill Watterson

Kita sering sekali menunda banyak hal karena berbagai alasan, contohnya menunda untuk bangun karena masih ingin tidur lebih lama, menunda untuk mengerjakan tugas karena merasa capek atau masih ingin santai, menunda untuk makan karena merasa kenyang atau sedang tidak nafsu makan, menunda waktu berangkat untuk janji ketemuan dengan teman karena merasa masih punya banyak waktu, dan masih banyak lagi. Terkadang kita menunda hal-hal tersebut karena kita mempunyai alasan yang jelas kenapa harus (dengan terpaksa) kita tunda, tetapi ada juga yang menunda dengan alasan yang sengaja dibuat-buat, padahal sebenarnya dia hanya malas saja untuk mengerjakan hal tersebut. 

Penundaan atau dalam bahasa inggrisnya Procastination menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menghentikan dan akan dilangsungkan lain kali (lain waktu), mengundurkan waktu pelaksanaan, atau juga berlama-lama dalam melakukan sesuatu. Mungkin banyak diantara kita yang menyatakan bahwa menunda itu hanya akan membuat kita menjadi malas dan membuat kita bekerja tidak maksimal. Apakah benar seperti itu?

Beginilah rasanya bila kita menulis dan menunda
karena merasa kurang inspirasi (alesan doang itu mah)

Aku bertanya kepada beberapa teman, dan banyak diantara mereka yang menunda sesuatu yang seharusnya tidak ditunda, misalnya menunda untuk bangun, kerja tugas, Bahkan menunda untuk mandi. Ya sudahlah hal-hal itu memang tidak boleh ditunda karena alasan yang tidak jelas. Tapi beberapa diantara mereka melakukan "Penundaan Positif". Nah lho apaan nih?

"Penundaan Positif" bagiku merupakan tindakan seseorang yang sabar dalam menanggapi sesuatu. Dia akan menunggu sampai waktunya tepat untuk mengerjakan hal tersebut sehingga dia tidak sampai salah mengerjakannya. Ada temanku yang menjawab bahwa dia menunda untuk perform karena dia berprofesi sebagai DJ, dan alasan dia menunda karena dia ingin menyelesaikan kuliah S1-nya dulu, baru dia akan perform lagi sebagai DJ. Dia menunda suatu hal yang sebenarnya bisa dia kerjakan sekarang, tapi dia menundanya untuk sesuatu yang lebih prioritas sehingga tidak ada pekerjaan yang tidak selesai dengan baik.

Bila kamu merupakan salah satu orang yang melakukan penundaan karena kamu malas melakukannya, kamu bisa mengubah kebiasaan kamu itu sehingga tidak terulang kembali. Beberapa tips yang aku bisa berikan kepada kalian adalah:
  1. Tetapkan prioritas (To-do list)
    Buatlah skala prioritas dari hal-hal yang akan kalian kerjakan nanti. Tentukan dari yang paling penting sampai pada yang kurang penting, dan juga tentukan waktu pengerjaannya. Apabila hal tersebut membutuhkan waktu pengerjaan yang lama, mungkin bisa diprioritaskan lebih tinggi, atau ada hal yang bisa dikerjakan dalam waktu yang cukup singkat dan sangat dibutuhkan, usahakan agar hal tersebut bisa diselesaikan secepatnya sehingga bisa mengerjakan yang lainnya.
  2. Tentukan timeline pengerjaan
    Ini penting dalam kita mengerjakan sesuatu secara teratur. Kita mungkin telah menentukan prioritas, tetapi kalau kita tidak mengatur waktu pengerjaan dengan baik, maka semua bisa sia-sia. Tentukan pembagian waktu pengerjaan yang tepat untuk setiap hal yang masuk dalam skala prioritas, sehingga semua hal bisa terselesaikan tepat waktu. Tentukan juga kapan kalian bisa istirahat dan berapa lama kalian istirahat agar kalian tidak jenuh dan stress dalam mengerjakan tugas-tugas kalian.
  3. Berkomitmen dan lakukan
    Kita sudah membuat skala prioritas dan membuat timeline pengerjaan. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kerjakan apa yang telah kita prioritaskan, dan kita tetap berkomitmen untuk mengerjakan apa yang telah kita jadwalkan dan tentukan sendiri. Ingat bila kita tidak ingin berkomitmen dan mengerjakan, sehebat apapun rencanamu semuanya sia-sia.
Do it, brother. Do it.


Jujur aku sendiri masih mempunyai banyak hal yang kutunda, termasuk menunda untuk menulis. Tapi, harus kuakui bahwa menulis ataupun membuat cover lagu dan menulis lagu sendiri itu tidak gampang. Inspirasi bisa datang kapan saja tanpa kita sadari, tapi kita tidak akan semudah itu menemukan inspirasi dan ide kapanpun kita mau. Berjuanglah melawan kemalasan, lakukan yang harus kalian lakukan, dan lakukanlah SEKARANG JUGA!!!

"Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa."
- Amsal 12:24

I'm Andrew. Keep calm and have a tea. God Bless ^_^

Kamis, 11 Juni 2015

"To Be Wealthy, Any Effort Is Necessary."

My Office
1417 hours

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu
- Ibrani 13:5a

Siapa sih yang gak mau kaya? Semua orang pasti mau dilimpahi dengan berkat materi sehingga hidupnya di dunia bisa terjamin. Memang ada orang yang mengatakan bahwa uang bukanlah segalanya, tapi setidaknya untuk kebutuhan sehari-hari, kita membutuhkan uang untuk membelinya. Berkat materi itu juga bisa kita bagikan kepada orang lain sehingga orang lain juga bisa merasakan sebagian berkat yang kita punya itu dan mereka juga bisa merasa bahagia. Tapi, apa jadinya kalau berkat itu seakan-akan "diperas" dan "dipaksakan" oleh orang lain untuk dibagi? Hmm.

Baru-baru ini sedang hangat suatu berita mengenai sebuah usaha transportasi dan kurir dengan sepeda motor, atau yang bisa kita sebut dengan "ojek", dimana salah seorang tukang ojek dari usaha tersebut diusir oleh tukang ojek setempat sehingga dia sampai harus membatalkan order dari pelanggan karena takut dihabisi oleh tukang ojek yang ada di tempat sang pelanggan bekerja, dan kejadian tersebut terjadi sebanyak dua kali berturut-turut. Alasan mereka mengusir tukang ojek dari usaha itu adalah mereka tidak setuju apabila jasa mereka tidak digunakan karena mereka menganggap rezeki mereka diambil. Muncullah kata-kata seperti ini,"Anda kerja disini, dapat gaji disini, bolehlah gajinya dibagi-bagi dengan tukang ojek disini". Akhirnya sang pelanggan usaha ojek itu mengalah dan menggunakan jasa tukang ojek yang ada disitu, yang kemudian ditagih dengan sangat mahal sampai berasa tidak wajar.

Lucu sih. Ada orang-orang yang sangat takut rezekinya diambil, padahal usaha itu ingin membantu tukang ojek tersebut mendapatkan penghasilan tambahan sehingga hidup mereka juga bisa sejahtera. Apakah dengan cara itu juga mereka bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak lagi? Saya rasa tidak.

Kasus seperti ini bisa kita jadikan contoh dimana manusia yang sangat mencintai harta dunia, akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, sampai-sampai harus mengancam orang lain untuk tidak melakukan hal yang sama dengan kita karena kita merasa dia membuat kita makin terpuruk. Betapa menyedihkan mental seperti ini.

Tuhan mengajarkan bahwa akar dari segala dosa ialah cinta uang (bdk. 1 Tim 6:10), sehingga dalam surat Ibrani, sang penulis (entah siapapun dia) mengatakan untuk jangan menjadi hamba uang, tetapi berusaha mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita. Orang yang benar-benar kaya bukanlah orang yang hartanya tidak akan habis sampai 7 keturunan, atau orang yang mempunyai rekening gendut di bank, tetapi orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan bersyukur senantiasa, itulah orang yang kaya baik materi maupun rohani. Sudahkah kita bersyukur atas apa yang kita bisa dapatkan hari ini, atau apakah kita membiarkan diri kita berbuat dosa hanya untuk uang?

Keep calm and have a tea. God Bless ^_^

Rabu, 20 Mei 2015

Ke-Dulu-an vs Ke-Kini-an

My Dorm Room
0140 hours

Kekinian,

Kalo dulu kita main gundu sama layangan di lapangan, sekarang kita mainnya di tab, smartphone, atau di gadget apapun.

Kalo dulu kita denger lagu pake tape yang masih pake kaset pita dan didenger rame - rame, sekarang telinganya pada disumpel pake headphones/earphones trus dengerin lagu sendiri - sendiri.

Kalo dulu nyanyinya,"Bangun pagi kuterus mandi. Tidak lupa menggosok gigi." Kalo sekarang nyanyinya,"Bangun pagi ku-update status. Tidak lupa kubuka Kaskus."

Kalo dulu orang bilangnya "sumpeh lo?", sekarang bilangnya "ciyus? miapah?".


Zaman berubah, era berganti. Perkembangan semakin pesat seiring berjalannya waktu. Sebagai manusia yang mengikuti perkembangan, pastinya kita ikut merasakan dampak dari perkembangan itu dong, iya gak? Banyak hal yang berkembang, misalnya teknologi, kehidupan sosial, tata bahasa, seni dan budaya, bahkan badan kita sendiri berkembang (ya iyalah namanya juga bertumbuh). Tentunya dengan adanya perkembangan seperti ini, kita tidak seperti berjalan ditempat saja, melainkan tetap maju kedepan memunculkan inovasi - inovasi yang dapat membantu kita dan sesama kita.

Kekinian adalah kondisi dimana kita mengikuti trend yang ada sekarang ini. Contohnya: trend dalam fashion, gaya bicara, teknologi, dsb. Kekinian membuat kita akan terus mengikuti perkembangan sehingga kita tetap up to date dengan hal - hal yang baru. Biasanya kekinian ini tersebar melalui begitu banyak media, sehingga kita bisa menemukannya dimana - mana. Kalau dulu kita mendapat up date terbaru tentang kondisi dunia lewat koran setiap pagi, sekarang kita bisa tau gosip - gosip teranyar ataupun perkembangan paling hebat setiap menit. updates tersebut kemudian dipraktekkan oleh khalayak ramai, sehingga terciptalah yang namanya trend, dan orang yang menciptakannya disebut trend setter.

Sayangnya, kekinian yang kita rasakan juga mempunyai dampak negatif yang sangat kita rasakan. Generasi yang pernah disebut sebagai "Generasi Zombie" menurut seorang pengkhotbah lokal di Jakarta merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari "kekinian" yang berkembang pesat ini. Kalau kita membandingkannya dengan zaman dulu (let's say kita mengambil era 90an), kita akan melihat begitu banyak hal yang sangat berbeda, dan mungkin setelah membaca ini kalian akan berpikir bahwa zaman dulu lebih baik. Kita liat ya:
  1. Entertainment (Hiburan)
    Setiap kita pasti ingin hiburan. Banyak cara biar kita bisa mendapatkan hiburan, entah itu dari menonton, bermain, mendengarkan musik, dsb. Dulu, kita menonton di TV dengan acara - acara yang baik sesuai umur (Ah aku kangen Tokyo Mew Mew dan Digimon), main bola plastik, sepedaan sore - sore, main YuGiOh dengan gaya dan efek kartu yang dibuat - buat persis seperti anime-nya (padahal sebenarnya gak semua persis kayak anime sih), trus dengerin musik di tape pake kaset pita yang harus diputer - puter pake pulpen. Intinya hiburan zaman dulu tuh masih bisa berinteraksi dengan orang lain secara langsung.
    Bagaimana dengan sekarang? Mau main game tinggal ambil tab atau smartphone. Mau nonton streaming YouTube, Denger lagu tinggal colok headphones dan tekan play di iPod atw media player lainnya. Paling banter ya SoundCloud atau YouTube, dan itu dilakukan sendiri. Minim interaksi dengan orang lain. Acara TV yang benar-benar sesuai dengan umurpun kayaknya bisa dihitung jari.
  2. Kehidupan Sosial dan Komunikasi
    Manusia tidak bisa hidup sendiri kan? Kita pasti butuh orang buat ngobrol juga. Kalau dulu tuh ngobrol sambil ngopi atau ngeteh bareng tuh sangat biasa. Nelpon aja masih pake nelpon rumah. Kalo punya handphone Nokia yg 3310 tuh udah berasa kaya banget asli dah. Alat komunikasi kayak gitu tuh bener-bener berfungsi untuk mendekatkan yang jauh. Kita ingin curhat tapi gak pengen ketahuan orang juga bisa nulis di diary. Interaksi banyak banget.
    Gimana dengan sekarang? Tab dan smartphone sudah merajalela kemana-mana. Awalnya dari fungsi "mendekatkan yang jauh", sekarang malah nambah jadi "menjauhkan yang dekat. Orang lagi asik nongkrong bareng, tapi pada main smartphone masing-masing. Gak ada ngobrolnya pake mulut. Tempat nongkrong juga kalo gak ada WiFi-nya pasti gak mau. Nokia 3310 aja kalo masih ada yang bawa ya paling buat nimpuk maling (katanya sih sakit. Gak tau dah bener apa kagak). Curhat juga gak perlu pake temen. Langsung aja nyerocos di Facebook. Pasti banyak yang comment (intinya cuma dijadiin rahasia umum doang).
  3. Gaya Bicara
    Namanya anak gaul pasti ada dong kata-kata gaul yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Jujur karena aku bukan orang yang tinggal di Jakarta pas kecil, aku gak tau bahasa yang dipakai untuk bahasa gaul di Jakarta. Tapi, yang bisa aku bilang adalah kalo ngobrol di zaman dulu tuh setidaknya masih ngertilah apa yang dibicarakan. Texting aja cuma singkat-singkat biasa gitu lho kayak "lags aps?" atau "laper nih. Caps yuk." Kira-kira kayak gitulah.
    Lah sekarang? 4L@y merajalela (nulis kata "alay" pake gaya alay aja masih rada mikir lho), "ciyus miapah enelan maacih" dimana-mana, Udahlah gak perlu kujabarin panjang-panjang juga udah tau yang lainnya kayak mana.
Setelah membaca hal-hal diatas, mungkin pada ngerasa kayak aku nyuruh buat tinggalin "kekinian" ya? Gak gitu kok. Tenang aja. Bagaimanapun, perkembangan itu perlu. Kita gak boleh membuang kekinian karena itu semua dapat membantu kita selaama kita menggunakannya dengan baik. Ambillah semua hal yang baik dan terapkanlah. Kalau memang kamu sangat kekinian sampe lupa hal zaman dulu, tidak apa-apa tuh. Kalau kalian orangnya lebih keduluan ketimbang kekinian, ya gak apa-apa juga, yang penting kita bisa saling melengkapi dan berbagi yang baik kepada orang lain. Aku aja pake social media kok, tapi bener-bener dipake buat cari informasi dan komunikasi dimana perlu.

Kalo kamu gimana? Udah kekinian atau masih keduluan? :)

Sabtu, 09 Mei 2015

Stereotype: Penilaian Subjektif yang Merugikan

Hepitea Story
2300 hours

Catatan dari penulis:

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan satu suku, agama, ras, atau orang - orang tertentu berdasarkan kategori tertentu. Tulisan ini semata - mata hanya ingin memperlihatkan beberapa pemikiran yang bisa dikatakan "kurang tepat" mengenai orang lain dari suatu identitas tertentu. No hard feeling. Let's be friends, okay?


"Ah dia mah emang kayak gitu. Orang cina kan biasanya pelit. Udah maklum sih gue."
- Random Colleague

Hello Internet. Welcome to my blog. Setelah sekian lama saya "lepas pena" karena gak ada inspirasi, akhirnya saya kembali menulis (ampun dah bahasanya). Hha.

Setiap orang unik. Tidak ada orang yang sama persis, bahkan meskipun dia mempunyai banyak kembaran, katakanlah kembarannya ada 4 (kebanyakan broooo). Tapi, meskipun masing - masing orang berbeda - beda, kita mempunyai beberapa kesamaan dengan orang - orang tertentu, misalnya dari suku, agama, ras, hobi, makanan/minuman, identitas tertentu, pekerjaan, dsb. Cara orang memandang orang lain juga berbeda - beda. Ada 2 macam penilaian, yaitu:

  1. Penilaian Objektif : Penilaian yang diambil berdasarkan pengukuran, pemeriksaan, atau seleksi tertentu tanpa melibatkan pemikiran secara personal, melainkan berdasarkan pemikiran logika umum berdasarkan barang bukti yang valid.
  2. Penilaian Subjektif : Penilaian yang diambil berdasarkan pendapat personal. Penilaian seperti ini sangat melibatkan selera atau preferensi dari sang penilai sendiri, sehingga tidak ada ukuran yang pasti mengenai penilaian tersebut karena setiap orang pasti mempunyai penilaian yang berbeda - beda.
Setelah membaca definisi saya diatas, pasti anda berpikir bahwa penilaian objektiflah yang benar. Apakah seperti itu? Rasanya tidak. Penilaian objektif mungkin berguna untuk hal - hal yang sudah pasti, misalnya tinggi badan, berat badan, hasil dalam perlombaan olahraga, dsb. Tapi, dalam kita menilai orang lain, menilai suatu karya seni, atau yang lainnya, kita pasti menggunakan penilaian subjektif, yang tidak jarang juga melahirkan pandangan - pandangan negatif ataupun positif yang akhirnya membuat orang "mencap" orang lain dengan hal - hal yang belum tentu tepat. Pandangan tersebut yang selanjutnya kita sebut dengan "Stereotype".


Apa itu stereotype? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, stereotype (atau stereotip) dapat didefinisikan sebagai berikut:

stereotip/ste·re·o·tip/ /stéréotip/ 1 a berbentuk tetap; berbentuk klise: ucapan yg --; 2 n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yg subjektif dan tidak tepat
Sumber: kbbi.web.id

Berdasarkan definisi diatas, kita bisa bilang bahwa stereotype itu tidak lebih dari sekedar penilaian orang - orang tertentu yang didasarkan pada apa yang mereka pikirkan sendiri, dan parahnya, pikiran itu mempengaruhi orang lain juga. Di Indonesia sendiri sebagai negara yang bersifat majemuk dimana terdiri dari berbagai macam manusia, pikiran - pikiran stereotype seperti itu banyak mempengaruhi  cara pandang seseorang terhadap sebangsanya sendiri, ataupun cara pandang tentang bangsa/negara lain. Misalnya:
  • "Orang Batak tuh mukanya sangar, udah gitu kalo ngomong lantang banget. Kayak pemarah2 gitu deh."
    Okay. Mungkin kebanyakan orang Batak yang kita temui mempunyai wajah yang sebegitu sangar, tapi perlu diingat bahwa ada juga orang Batak yang punya sifat yang jauh lebih halus dibandingkan dengan orang Jawa. Mereka juga baik. Logat mereka yang ngomong agak keras juga bukan berarti mereka pemarah dan kasar. Cara mereka berbicara memang seperti itu kok, tapi aslinya mereka baik juga.
  • "Orang Chinese itu rata - rata pinter ya? Sayang pelit."
    Dibilang pelit sih gak juga ya, tapi memang mereka punya beberapa alasan untuk bersikap seperti itu. Mereka dari dulu diajarkan untuk menabung dan diajarkan untuk tidak membuang - buang rezeki yang diberikan, sehingga mereka bisa siap untuk masa depan mereka. Pinter juga belum tentu. Ada juga orang Chinese yang kemampuannya standard.
  • "Kalo kacamataan tuh biasanya pinter. Pasti dia ngabisin waktu buat baca buku pelajaran tiap hari."
    Wait, what? Ayolah.. Gak semua kayak gitu. Mungkin saja dia cuma seorang gamer hardcore yang gak tau kapan harus berhenti.
  • "Orang Korea itu cantik/ganteng, tapi sayang mereka oplas (operasi plastik)."
    Gak semua orang disana oplas kok. Cukup banyak orang korea yang tidak operasi plastik, tapi mereka tetap cantik/ganteng. Silakan aja cari di Google daftar artis Korea yang gak operasi plastik. Mereka juga terkenal sampe international karena drama kok.
  • "Kalo orang Papua kayaknya gampang dibodoh - bodohin. Udah item, primitif lagi. Tch."
    Pikiran kayak gini sih mesti ditindak. Benar - benar harus ditindak. Banyak orang Papua dan sekitarnya jadi objek bullying karena etnis mereka. Saya pernah menemukan teman yang berasal dari Papua, dia kulitnya kuning langsat, berambut lurus, dan rajin, bahkan sangat rajin daripada orang lokal. Jadi, kalau masih ada yang merasa orang Papua itu primitif, pikir lagi. Mungkin mereka adalah orang - orang yang lebih maju dari kalian.
Selain 4 hal diatas, masih banyak stereotype yang tertanam di dalam pikiran banyak orang di Indonesia. Terkadang stereotype seperti ini tidak tepat, dan harus diperbaik secepatnya. Stereotype seperti ini malah yang membuat perpecahan diantara masyarakat Indonesia, padahal banyak juga orang - orang yang sifatnya tidak seperti stereotype tersebut. Ayolah Indonesia. Kita ini punya potensi yang besar. Masa cuma karena hal seperti ini terus kita tercerai berai?

Sekian yang bisa saya bahas mengenai stereotype. Mungkin ada teman - teman yang ingin menambahkan tentang stereotype dan apa fakta sebenarnya dibalik stereotype tersebut? Leave your comments below. Thank you. ^_^ Peace out.

Sabtu, 20 September 2014

I'm Fine

My Dorm Room
1048 hours

"Don't worry about me......... I'm fine."

Aku sedang berjalan - jalan di sekitar tempat tinggalku yang sekarang, kemudian aku bertemu dengan seorang anak yang sangat baik sekali. Dia sering sekali membantu teman - temannya yang kesusahan. Dari apa yang aku dengar, dia adalah orang yang senang untuk mendengarkan cerita orang lain. Dia sangat ingin membantu orang terkait masalah yang ada pada mereka, dan dia selalu menjadi pendengar yang baik bagi setiap orang yang bercerita kepadanya. Dia juga mempunyai sahabat yang sangat dekat padanya. Mereka juga sering membantu dia, dan dia juga sering membantu mereka sebagai pendengar yang baik dan juga memberikan nasehat apabila dia bisa memberikan sesuatu kepada sahabat - sahabatnya. Sejauh yang aku tahu, dia adalah orang yang tertutup, dan meskipun itu sahabatnya, dia tidak menceritakan banyak hal mengenai dirinya. Segala hal yang diceritakannya hanya sebagian, ataupun merupakan suatu "versi paralel" dari cerita sebenarnya. Dia tidak ingin orang lain merasa berat hati karena merasa menyusahkan dia, sehingga sering sekali kata - kata ini keluar dari mulutnya:

"Your happiness is my happiness. Don't worry, I'm fine"

Mereka yang menerima pertolongannya sangat senang karena masalah mereka bisa terselesaikan berkat nasihat - nasihat dari anak ini. Dia membantu mereka dengan mengetahui bahwa dia pada akhirnya akan ditinggalkan juga, bahkan oleh sahabat - sahabatnya, tetapi dia tetap saja membantu mereka mengejar kebahagiaan mereka. Dia mengorbankan egonya sendiri dengan berpikir bahwa kebahagiaan teman - temannya adalah kebahagiaannya juga, sehingga meskipun dia harus menghadapi begitu banyak tantangan, tetapi bila semua itu demi kebahagiaan teman - teman yang dikasihinya, dia akan melakukan semua yang bisa dia lakukan. Semua itu ditahannya, tidak diperlihatkannya air mata dihadapan teman - temannya. Dia tetap teguh berdiri menghadapi setiap hal yang mencoba merenggut kebahagiaan teman - temannya itu.

Aku sangat sedih melihat semua itu. Dia rela mengorbankan "kebahagiaan"nya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Dia tidak peduli apakah dia harus menanggung sakit hati yang sangat dalam. Dia tidak peduli apabila gadis yang dia sayangi pada akhirnya harus dia relakan pada sahabatnya karena baginya, gadis itu lebih pantas bila bersama dengan sahabatnya itu. Dia tidak peduli apabila pada akhirnya, setiap sahabatnya akan menjalani hidup bahagia bersama dengan orang - orang yang dikasihi mereka masing - masing, sedangkan anak itu harus hidup sendiri, melihat kebahagiaan sahabat - sahabatnya itu dari jauh. Dia tidak peduli akan dirinya, tetapi dia lebih peduli akan orang lain. Menyedihkan, tapi dia harus melakukan itu, karena bagi dia, kebahagiaan yang dia cari untuk dirinya sendiri tidak akan berarti apa - apa, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain.

Akupun berkata kepadanya,"Bukankah ada impian yang ingin kau capai? Bukankah dia yang ingin kau bahagiakan bersamamu? Bukankah kau ingin merasakan bahagia seperti mereka? Kenapa kau melakukan semua ini?". Dia hanya tersenyum padaku dan berkata:

"Mereka itu lebih penting daripada aku. Aku tidak apa - apa."

Dia mengatakan hal itu sambil berlalu, menebarkan kebahagiaan kepada setiap orang yang dia temui dan meminta pertolongannya. Akupun terdiam, tak mampu berkata apa - apa, dan yang bisa kulakukan hanyalah berharap agar dia bisa merasakan kebahagiaan seperti sahabat - sahabatnya.

"Good luck finding your own happiness, kid. Don't let your heart hollow for your whole life."

Sabtu, 06 September 2014

Hello There

My Dorm Room
2105 hours

A little word from me won't hurt, right? :D



Facebook: https://www.facebook.com/afrancis47
Twitter: https://twitter.com/afrancis47
Ask.fm: http://ask.fm/afrancis47
Soundcloud: https://soundcloud.com/afrancis47

Selasa, 11 Februari 2014

The True Power

0010 hours
Reading Rooom

"Only those who try to resist temptation know how strong it is."
- C.S.Lewis

Hay hoo.. It's been a long time since I write in this blog. I wonder how long it has been. LOL. Today I want to share something that I just found today. Quite interesting for me.

I just read some article about "Is Your Brain Truly Ready for TV, Porn, or The Internet? (Click here to read it), and I find quote from C.S.Lewis. At the moment I see it, I think about it for a while. What did I do to overcome problems in my life? What did I do to overcome my struggles? What if my struggle doesn't have to take so long, but for some reason, I keep struggling for the same thing for years until now? You know what's wrong? Our biggest problem above all of this is laziness and we giving up so easily. Why so?

Let's say it like this: You struggle for some addicting sin, and you want to be released from it. Now I know that those kind of struggles cannot be overcame easily, but that doesn't mean we have to take forever to get over it, right? Sometimes, we just eventually gave up and keep doing the same thing over and over again. When we give up, we'll let those sins lead us, but when we try to be free from it, it might try to force you to get back to it. Imagine when you got tied. When you try to break free, you'll force the chain to break by pulling it, and the chain will become tighter as you pull it, until you are free, whether you got your own hands broken or the chain's broken. Then, you'll know the full strength of the chain, and you'll know that you can overcome those "chains" with your power. The same thing goes with your struggle and problems. When you try to be free from it, it will try to get you back to do the same thing. You can be free with a little bit "wounded" from the struggle or the struggle itself broke. Then, you'll know how strong it is, and you'll see that even though it's so strong, you can overcome it.

So, how's your struggling? Did you still trying to break free, or did you just give up and do what it wants you to do?